Selasa, 23 Juli 2019

Kisah Ceo Whatsapp Dari Tukang Sapu Hingga Menjadi Miliarder




Kira-kira satu dari tujuh orang di dunia memakai aplikasi WhatsApp, ucapkan terima kasih atas layanan mereka untuk mengirim dan mendapatkan pesan kepada sahabat dan keluargamu secara gratis. Namun mungkin yang lebih mengesankan daripada popularitas WhatsApp yaitu keberhasilan CEO dan pendiri WhatsApp, Jan Koum.

Koum lahir di Kiev, Ukraina, dan ketika berusia 16 tahun, ia dan ibunya berimigrasi, meninggalkan ayahnya, dengan impian bisa menemukan kehidupan yang lebih baik. Mereka pindah ke Mountain View, California, di mana subsidi pemerintah membantu mereka mendapatkan kupon masakan dan apartemen dengan harga yang murah.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan, Koum bekerja sebagai petugas kebersihan, sedangkan ibunya bekerja sebagai pengasuh bayi. Koum mengaku dirinya tak bisa sering-sering menghubungi sang ayah alasannya mahalnya biaya telepon.

Setelah pindah ke Amerika dan mulai bersekolah di sana, Koum yaitu satu-satunya di kelas yang tidak mempunyai mobil. Koum terpaksa harus bangkit lebih awal untuk mengejar bus. Kopernya bahkan bekas koper yang dibawa dari Ukraina dengan alat tulis dan buku tulis cetakan Uni Soviet untuk menghemat uang sekolah.

Baru sebelum berusia 19 tahun ia mempunyai komputer pertamanya dan mempelajari koding sesudah mendapatkan komputer tersebut. Koum kemudian bergabung menjadi bab dari jaringan hacker populer berjulukan w00w00, di mana pengusaha teknologi populer lainnya Sean Parker dan Shawn Fanning juga merupakan bab dari jaringan hacker tersebut.

Koum pergi ke Universitas San Jose untuk mencar ilmu ilmu matematika dan komputer, tetapi jadinya ia drop out kemudian kemudian bekerja sebagai pembungkus barang belanjaan di supermarket dan sebagai penguji keamanan perusahaan Ernst & Young. Koum bertemu dengan Acton ketika bekerja disana.

Enam bulan kemudian Koum dan Acton mendaftar ke Yahoo! dan menerima pekerjaan sebagai insinyur perangkat lunak serta sistem periklanan. Selama masa mereka di Yahoo, pertemanan mereka tumbuh.



Pada tahun 2007 Koum dan Acton meninggalkan Yahoo alasannya kecewa dan tak sejalan dikarenakan keputusan Yahoo! memasang banyak iklan yang mulai mengganggu pelanggan. Tapi mereka tidak yakin apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Mereka kemudian menghabiskan waktu setahun di Amerika Selatan untuk menyegarkan pikiran mereka. Tapi tidak ada wangsit yang benar-benar muncul dalam pikiran, hingga Januari 2009 Koum membeli iPhone. Dia mulai berpikir untuk menciptakan sebuah aplikasi.

Koum mendapatkan idenya, sebuah tampilkan update status di sebelah nomor telepon orang di kontak. Status akan menyampaikan bila orang itu sedang tersedia, sibuk, baterai rendah, dan lain-lain.

Nama yang muncul dalam pikiran Koum yaitu WhatsApp alasannya terdengar seolah-olah dengan kalimat what's up yang biasa digunakan untuk menanyakan kabar.

Namun ternyata aplikasinya tersebut belum berhasil, ia kemudian menyampaikan mungkin sudah waktunya untuk mendapatkan pekerjaan tetap. Acton membujuknya dan menyampaikan semoga tetap berjuang dengan aplikasinya tersebut.

Kemudian Koum merilis versi kedua dari aplikasi tersebut dengan merubahnya menjadi aplikasi pesan instan, ia dengan cepat melihat jumlah penggunanya naik.

Koum menawari Acton yang masih menganggur untuk menjadi co-founder. Kendati sempat mengalami kesulitan keuangan, WhatsApp terus tumbuh dan mulai menghasilkan pendapatan dari biaya langganan yang ditarik dari pengguna dan Acton yang mengajak teman-temannya dari Yahoo untuk menginvestasikan uangnya ke WhatsApp.

Kini, WhatsApp telah telah berubah menjadi jadi layanan pesan instan terbesar yang kemudian dibeli Facebook dengan nilai sekitar Rp. 223 miliar. Dengan jumlah pengguna aktif per bulan mencapai 450 juta. Setiap hari, sebanyak 18 miliar pesan dikirim melalui jaringannya.

Semua itu ditangani dengan jumlah karyawan hanya 50 orang. Kekayaan Koum yang dimiliki sekitar 45 persen saham WhatsApp diperkirakan melonjak jadi 6,8 miliar dollar AS.

Sehubungan dengan kemungkinan adanya penyadapan oleh NSA, Koum menyampaikan bahwa privasi pengguna WhatsApp sangat dijaga. Berbeda dengan perusahaan-perusahaan semacam Facebook dan Yahoo.


Koum juga menyampaikan bahwa WhatsApp tak didorong oleh iklan alasannya ia anggap pengguna haruslah nyaman dengan aplikasinya. Sikap ini tecermin dari secarik kertas di ruang kantor Koum, berisikan semboyan singkat yang ditulis oleh Acton: "Tanpa Iklan! Tanpa Permainan! Tanpa Gimmick!."



Kendati demikian, ia tak melupakan masa lalu. Koum menandatangani perjanjian bernilai miliaran rupiah dengan Facebook itu di depan bekas kantor Dinas Sosial North County, Mountain View, kawasan ia dulu mengantre kupon masakan tolong-menolong warga kurang bisa lainnya.




Semoga Bermanfaat, Terimakasih


Sumberhttps://www.rodapunk.com//search?q=24/how-whatsapp-founder-jan-koum-went-from-welfare-to-billionaire


0 komentar:

Posting Komentar